detik per detik
Indeks
banner 400x130
DAERAH  

Teluk Ambon dalam Kepungan Sampah: Transformasi dari Ikon Wisata Menjadi “Tong Sampah”

banner 120x600

AMBON – Kota Ambon Manise sedang berduka secara ekologis. Teluk Ambon, yang selama ini menjadi wajah kebanggaan sekaligus jantung kehidupan masyarakat Maluku, kini berada di ambang kehancuran. Perairan yang dahulu tenang dan jernih, kini perlahan berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah raksasa yang mengancam masa depan pesisir.

Data menunjukkan bahwa Kota Ambon memproduksi sekitar 256 ton sampah setiap hari. Mirisnya, keterbatasan sistem tata kelola membuat sebagian besar limbah tersebut gagal mencapai Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Jalur pelarian terakhir sampah-sampah ini adalah sungai, yang kemudian bermuara dan menumpuk di laut.

banner 325x300

Perjuangan Tanpa Ujung di Muara

Di titik-titik kritis seperti kawasan Pasar Mardika hingga muara Kali Batu Merah, petugas kebersihan bak melawan arus yang tak pernah berhenti. Menggunakan speedboat, mereka menyisir permukaan laut setiap hari.

  • Volume Angkutan: Dalam sekali penyisiran, petugas mampu mengangkut hingga 0,5 ton sampah plastik.
  • Jenis Limbah: Didominasi botol plastik, kantong kresek, bungkus makanan, hingga limbah domestik rumah tangga.
  • Kendala Lapangan: Jaring penahan sampah yang dipasang pemerintah di sungai-sungai kerap jebol akibat derasnya volume limbah dan cuaca ekstrem, membuat sampah mengalir bebas ke laut.

Jeritan Nelayan dan Peringatan Pakar

Kondisi ini memicu kekhawatiran serius dari kalangan akademisi. Pakar lingkungan Universitas Pattimura, Abraham Tulalessy, menegaskan bahwa Teluk Ambon telah mengalami pergeseran fungsi ekologis yang fatal.

“Teluk Ambon kini perlahan berubah menjadi tong sampah raksasa. Dampaknya nyata; nelayan kehilangan mata pencaharian karena ikan-ikan menjauh dari perairan yang telah tercemar,” ungkapnya.


Ancaman Kesehatan di Balik Tumpukan Plastik

Masalah ini bukan sekadar pemandangan yang buruk secara estetika. Penumpukan sampah di pesisir membawa risiko multifaktor:

  1. Ekologi: Kerusakan ekosistem bawah laut dan hilangnya biodiversitas.
  2. Kesehatan Publik: Sampah yang terbawa sungai mengusung bakteri patogen dan limbah domestik berbahaya ke pemukiman warga pesisir.
  3. Ekonomi: Menurunnya daya tarik wisata dan pendapatan sektor perikanan lokal.

Jika tidak ada langkah revolusioner dalam pengelolaan sampah dari hulu (rumah tangga dan sungai), “Manise” dari Kota Ambon hanya akan tinggal kenangan yang terkubur di bawah tumpukan plastik.


Detikpers | DEnyuT Informasi raKyat

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *